Mahira dan Sayangnya Bunda
Bunda bilang "selamat tinggal"
Mahira mengatakan "selamat datang, bunda"
Bunda, lihat ini. Taman bermain Mahira luas sekali bunda.
Disudut sana bunda, iya disudut sana. Mahira bermain ayunan.
Lihat sekitar bunda, teman Mahira banyak sekali disini.
Bunda, Mahira bisa makan banyak donk disini.
Bunda, kok bunda menangis?
Ini lho bunda, tempat duduk bunda disamping Mahira.
Mahira bisa berlari disini.
Lompat-lompat.
Main petak umpet.
Main pesawat terbang.
Mahira sehat bunda,
Mahira makan banyak,
Mahira tidak muntah lagi,
Mahira punya banyak teman,
Mahira bahagiaaa sekali,
Mahira ingin bunda melihat mahira bahagia.
Biar bunda ga sedih lagi.
Mahira anak solihah kok bunda.
Kan bunda yang mengajarkan mahira, doa kebaikan untuk kedua orang tua.
Mahira ga lupa kok, doain ayah dan bunda.
Bunda jangan nangis lagi yaa.
***
Mahira sayang, cantik, dan lucu.
Bunda tidak nangis kok.
Bunda bahagia kamu sudah sehat nak.
Terima kasih, telah mengajarkan bunda banyak hal.
-------------------------------------------------------------------
Puisi ini diperuntukan untuk Mahira. Seorang putri cantik kecil, dari pasangan mba Istiqomah dan mas Farce, guru ngaji penulis.
Mahira merupakan putri pertama dari pasangan itu. Namun, Mahira terkena Hydrocepalus. Mahira lucu harus menjalani banyak operasi, dirawat di banyak rumah sakit.
Tentu saja, orang tua Mahira, dengan keterbatasan yang dimiliki, berjuang terus menerus demi kelangsungan hidup putri kecil, cantik, nan lucu.
Takdir berkata lain. 10 Juli 2016, Mahira dipanggil oleh Alloh Swt.
Mahira, tetap tersenyum ya disana.
Nak, senyummu membuat semua mata tersadar, bahwa kebahagiaan itu hanya didapat dengan mensyukuri apa yang ada.
Nak, kamu menyadarkan bahwa, sekecil apapun senyuman dapat menyenangkan banyak sekali manusia.
Nak, kamu mengajarkan bahwa semua yang di dunia ada batasannya.
Dan nak Mahira sayang, kamu memberitahu bahwa tidak ada yang sia-sia terlahir ke dunia.
Komentar
Posting Komentar