Agama itu Aplikasi
Saya akan memulai tuisan ini dari beberapa fenomena yang terjadi di negeri ini. Sudah sama-sama kita lihat dan kita dengar, banyak sekali keributan-keributan, huru-hara, kerusuhan, perang antar suku dan fenomena-fenomena lainnya. Ironisnya, mereka semua adalah umat yang memiliki agama (yaa, karena indonesia mewajibkan seluruh penduduknya memiliki agama sebagaimana tertuang dalam pancasila sila pertama).
Ironisnya lagi, umumnya mereka beragama islam, bahkan ada yang antar pondok pesantren (artinya, sesama agama islam) suatu daerah itu saling bakar membakar pondok. Hmmm, sangat mengenaskan, tapi terjadi di negara ini. Semoga Alloh mengampuni mereka dan kita semua, amin.
Lur,
Islam itu mudah, islam itu damai, islam itu mulia-mulianya agama, islam itu agama yang di-ridhoi oleh Alloh. Kalau Tuhannya saja sudah ridho, senang, semestinya hambanya pun senang, aman, damai saat memeluk agama ini (baca : agama islam).
Sekarang terbuka sebuah pertanyaan menggelitik, lantas mengapa negara ini (yang mayoritas pemeluk islam) bisa terjadi huru-hara seperti ini?
Apakah Tuhannya yang salah menurunkan agama? Jawabannya jelas tidak, Tuhan tidak pernah salah. Dia adalah zat yang maha sempurna.
Lalu, apakah rosulnya (utusannya) yang yang tidak menyampaikan risalah ini dengan sempurna? Jawabannya pun jelas tidak, Alloh berfirman dalam hadits Qudsi yang diturunkan saat Nabi Muhammad Saw Haji wada’ “Rodhiitu billahi robban, wa bil islaami diinan, wa bi Muhammadin Nabiyyan” Alloh telah ridho menetapkan agama islam ini sebagai agama yang sempurna. Bahkan “innad diina ‘indallohi islam” agama yang diterima disisi Alloh hanyalah islam semata. Kalau Alloh-nya saja sudah sempurna, maka agama yang diterima di sisi Alloh adalah agama yang sempurna pula (baca : Islam).
Lantas kalau begitu apakah yang salah petunjuknya, artinya apakah agama islam ini tidak dibawakan sempurna oleh para pewaris agama, tidak tersalurkan sempurna oleh para ulama’? jawabannya tentu saja tidak pula. Kita sudah tahu bagaimana beratnya perjuangan para sahabat dalam peperangan, hebatnya perjuangan ulama-ulama besar kita dahulu, bahkan untuk urusan pe-mushaf-an Quran dan Hadits pun dipikirkan oleh Ulama-ulama dahulu. Bagaimana kholifah Utsman bin Affan bersama sahabat-sahabatnya membukukan Quran dari para hafidzul Quran pada zamannya semata-mata dengan tujuan, agar umat selanjutnya (yang notabene daya ingatnya semakin lemah) masih bisa menerima ilmu dari Quran tersebut.
Kitapun sekarang bisa mersakannya. Alhamdulillah. Lalu belum cukup sampai disitu, bagaimana perjuangan Imam Bukhori, Imam Muslim, dan murid-muridnya serta perowi-perowi hadits lain berusaha membukukan Sunnah-sunnah nabi Muhammad Saw, lagi lagi dengan niat semata mata untuk menolong umat zaman selanjutnya, agar bisa menikmati, mencermati, menirukan sifat-sifat baik yang ada pada nabi Muhammad saw. Alhamdulillahirobbil Alamin, alhamdulillah jaza humullohu khoiro kepada para pejuang agama. Semoga Alloh memberikan balasan yang baik, Surga disisi-Nya, sebab perjuangannya. Amin.
Kalau begitu, kita donk yang salah. Yang tidak mau belajar agama dengan sempurna, tidak mau mempraktikkan apa yang sudah diajarkan Rosululloh Saw? Jawabannya adalah ada pada diri kita masing-masing. Saya sendiri akan menjawab, separuh iya separuh tidak.
Lhoo koq bisa? Yaa, saya yakin kita disini sudah sangat banyak mengaji masalah akhlaqul kariimah, Kitabul Adab insya Alloh sudah khatam bolak balik, sudah sampai lecek-lecek saking seringnya dipelajari. Artinya, dari sisi keinginan kita untuk mempelajari agama Alloh ini jalan kita sudah benar. Kita sudah banyak melaksanakan ajakan Alloh berupa mencari ilmu. Kita sudah banyak memenuhi ajakan Alloh Rosul untuk mencari dan mempelajari Ilmu agama islam ini. Kita sudah memenuhi panggilan Alloh Rosul “Tholabul ‘Ilmi Faridhotun ala kulli muslimin”. Tapi ini bukan berarti kita cukup mencari ilmunya yaa, ingat lhoo ! . Tetap mencari ilmu yang banyak, tetap sering mengaji, hanya saja (nah ini kesalahan kita) lebih banyak lagi kita praktikkan dalam kehidupan sehari-hari.
Lur,
Saya mencoba memperhatikan tantang ajaran agama islam ini, dengan melihat sifat-sifat ajaran yang diajarkan oleh Alloh dan Rosul. Ternyata agama islam ini lebih banyak mengajarkan ibadah yang bersifat sosial dibandingkan dengan ibadah yang bersifat meng-esa-kan Alloh (Silahkan diperhatikan).
Sekarang saya akan mencoba mengajak pembaca untuk membayangkan bersama-sama. Berikan saya contoh ibadah yang meng-esa-kan Alloh? Sebagai pengantar, ibadah yang meng-esa-kan Alloh adalah ibadah yang saat itu kita benar-benar hanya berinteraksi dengan Alloh (hablum minalloh). Mungkin yang terlintas di bayangan adalah Sholat (baik Wajib maupun Sunnah), Membaca Al-Quran, Berdoa (doa-pun lebih banyak yang doa bersifat sosial atau khalayak umum, dibanding dengan doa-doa yang meng-esa-kan Alloh), Puasa (Puasa-pun meski secara kasat mata kita meng-esa-kan Alloh, tetapi secara maknawi ini lebih ke kesetaraan sosial. Yang kaya dan yang miskin sama, sama-sama tidak makan pada siang hari dan sama-sama makan saat berbuka).
Sekarang bayangkan ibadah yang diajarkan Alloh dan Rosul yang bersifat sosial. Sebagai pengantar, ibadah yang bersifat sosial adalah ibadah perintah Alloh Rosul juga namun sifatnya lebih kearah menolong sesama manusia, menolong ke hewan, tumbuhan dan lain sebagainya (Hablum minannaas).
Sekarang kita sebutkan satu persatu, zakat infaq sodaqoh, memuliakan tetangga, puasa-pun bisa kita masukkan dalam kategori ini, membersihkan rumah, membuang sampah dari dalam mesjid, tersenyum, memuliakan orang tua, memuliakan pengurus, memberi hadiah, tolong menolong, kerjasama, sabar ketika dicemooh, menahan amarah dan masih banyak contoh lainnya.
Saya bawa pembaca ke bayangan lain, kitabus sholah (sebagai contoh gambaran ilmu yang bersifat meng-esa-kan Alloh) yang tebalnya sekitar 150 halaman, hanya berisi tentang tata cara sholat dan jenis-jeins sholat, mungkin ditambahi dengan sedikit doa-doa dan tatacara wudlu.
Sedangkan kitab Tata Krama (sebagai contoh gambaran ilmu yang bersifat sosial) yang tebalnya hanya sekitar 50 halaman, itu berisi bermacam-macam amalan kecil (Sekitar 100 lebih amalan), sederhana, tapi bisa menjadikan kita mulia disisi orang lain.
Lur,
Islam itu mulia. Dikatakan mulia karena memang ajarannya menghendaki orang yang mengamalkannya menjadi mulia disisi orang lain. Yang memberikan penilaian mulia atau tidak itu kan orang lain. Contoh, Si A berbuat baik pada Si B, maka si B akan menilai Si A adalah orang mulia. Tapi disini harus ada perlakuan dari si A yang membuat Si B menilai Si A baik. Point-nya ada disini, Lur.
Yaa, ada suatu perlakuan yang membuat Si A dinilai baik oleh Si B. begitu pula untuk sekelompok orang atau keluarga, ada suatu perbuatan baik yang dilakukan anggota keluarga tersebut, sehingga bisa dinilai baik oleh keluarga lain. Begitu pula dengan islam, ada suatu ajaran yang diajarkan islam kepada pemeluknya, yang membuat sesama pemeluk islam atau pemeluk agama lain menilai islam itu baik dan mulia. Intinya disini adalah masalah praktik, amal, aplikatif.
Kalau begitu, sekarang pembaca bisa mengambil kesimpulan, mengapa islam disebut agama yang damai, agama yang mulia, agama yang mudah.
Nah, sekarang kembali ke permasalahan awal. Mengapa islam yang sudah disebut seperti diatas, tidak cocok dengan fenomena yang terjadi diatas. Jawabannya adalah kurangnya aplikasi dari pemeluknya.
Terkadang, kita lebih terfokus melakukan amalan andalan diluar amalan wajib, dengan mengedepankan ibadah yang bersifat meng-esa-kan Alloh, namun terkadang kita sulit konstant menjalankannya itu. Kita terlalu terfokus untuk melakukan ibadah andalan yang besar, tapi terkadang kita sulit bertahan. Bukankah lebih baik kita melakukan ibadah kecil, yang tidak terlalu banyak menyita waktu, yang aplikatif ke sosial, seperti tersebut diatas, namun kita bisa merutinkan itu dibanding kita terlalu ngoyo, padahal “Laqod’ Kholaq’nal insaana fii kabad” Alloh telah menciptakan kita dalam keadaan sibuk, dengan sibuk ini terkadang kita menjadi terasa berat untuk melaksanakan ibadah andalan (sunnah) yang besar. Wong sholat wajib ae kesusu kesusu.
Saya tidak menyalahkan orang yang berusaha mengerjakan Sholat Sunnah Dhuha 12 rokaat perhari, kalau memang sanggup dan bisa rutin, saya acungkan jempol. Dan saya sangat menghargai, serta saya-pun mendoakan, semoga Alloh memberikan balasan yang mulia kepada orang tersebut. Amin. Karena saya sendiri, jujur, belum sanggup untuk mengerjakan seperti itu. Walaupun berusaha merutinkan sholat sunnah, tapi mesti ada saja suatu hari saya tidak bisa mengerjakan sholat sunnah.
Kita adakan survey sekalian artikel ini. Siapa yang rutin sholat dhuha 12 rokaat setiap hari selama seminggu? Atau tidak harus 12 rokaat, 4 rokaat setiap hari selama seminggu. Lalu, siapa yang rutin melakukan solat tasbih setiap hari selama seminggu? Atau tidak harus setiap hari, setiap minggu selama sebulan.
Bukannya, saya su’udzon atau pesimis, tapi dari kenyataan yang ada (saya melihat sekitaran saya juga) dari pertanyaan diatas, mungkin lebih banyak individu yang tidak mengacungkan jari dibandingkan dengan yang mengacungkan jari. Bagi yang mengacungkan jari, semoga Alloh berikan kekuatan supaya bisa istiqomah dalam mengerjakan amalannya. Bagi yang tidak mengacung semoga Alloh berika petunjuk, kelonggaran agar bisa melakukan ibadah-badah lain guna mengejar ketertinggalan pahala dari sodara iman yang lain (semoga artikel dibawahnya bisa memberikan petunjuk).
Nah sekarang yang saya ingin ajak adalah objek yang selalu merasa dirinya sibuk, namun khawatir pula dengan tabungan pahalanya, sudah cukup atau tidak untuk di tukarkan dengan surganya Alloh. Jangan khawatir bagi insan insan tersebut, masih banyak amalan amalan kecil yang bernilai pahala besar, bahkan dapat membuat anda mulia dipandangan orang lain.
Yaa, ajaran yang besifat aplikatif itu. Seperti yang disebutkan diatas. Ibadah-ibadah sederhana yang bisa menambah pahala anda, menjadikan anda mulia, terkenang di orang lain, bahkan agama ini pun juga membutuhkan anda. Pembaca mungkin sholat sunnah dhuha 4 rokaat setiap hari tidak sempat, bagaimana dengan membuang bungkus permen sehabis pengajian? Saya rasa tidak memakan waktu lebih dari 5 menit, bisa membuat mesjid bersih, besoknya teman anda yang punya amalan andalan sholat dhuha 4 rokaat, bisa sholat dengan khusyu dan nyaman. Bagaimana usul saya?
Lagi, pembaca mungkin sulit nahan lapar, sehingga tidak bisa puasa sunnah senin kamis. Bagaimana dengan memberi makan orang yang berbuka saat puasa senin kamis. Anda sekalian makan, sekalian menolong teman anda yang punya amalan andalan berpuasa senin kamis. Bagaimana dengan usul saya satu ini?
Pembaca mungkin sulit untuk membaca Al-Quran setiap hari, entah mungkin karena belum fasih membaca Quran tersebut, atau mungkin karena lagi lagi kata “Sibuk”. Bagaimana dengan memberikan satu mushaf Quran atau Hadits bagus kepada mubaligh tugasan-nya, besoknya mubaligh-nya semangat lagi mengajar dengan Quran baru, semangat lagi mencari ilmu dengan hadits baru. Setuju dengan saran saya?
Dan masih banyak lagi contoh-contoh aplikasi agama islam lain. Bagaimana dengan memberi semangkuk kecil lauk kepada tetangganya setiap hari. Insya Alloh anggota keluarga tidak akan kelaparan kalau hanya dikurangi semangkuk kecil lauknya. Sekalian masak untuk anggota keluarga, Andapun akan dinilai baik oleh tetangga sekitar. Meskipun tetangga sebelah anda profesinya maling sekalipun, dia akan pekewoh untuk maling rumah anda, karena setiap hari anda mengasi makanan ke dia. Kata dia dalam hati “ngapain gue maling rumah dia, orang nanti juga bakalan dikasih.” Iyaa tidak?
Bagaimana dengan rajin membersihkan rumah, tidak harus yang berprofesi sebagai ibu rumah tangga. Nyapu-nyapu, ngepel-ngepel, ngelap-ngelap. Anda sudah mempraktikkan dalil “kebersihan sebagian dari iman”. Keluarga anda menjadi sehat, menolong keluarga anda untuk bisa terus melanjutkan ibadah lain karena sehat dari bersih tersebut. Iyoo opo ora?
Ini yag dikatakan islam itu mulia, islam itu damai, islam itu bersih. Islam lebih banyak mengajarkan kita untuk memuliakan diri kita sendiri, sesama pemeluk islam, orang lain, kelompok lain diluar pemeluk islam, bahkan hewan, tumbuhan. Orang yang sudah mati pun harus dimuliakan, diajkarkan oleh islam juga. Bahkan benda mati-pun juga harus dimuliakan.
Bagaimana islam mengajarkan kita untuk merawat diri sendiri, mandi, sikat gigi, memakai wangi-wangian, memakai pakaian yang pantas, seperti dicontohkan nabi Muhammad Saw. Beliau ganteng, rambutnya gondrong rapih, beliau putih bersih, badannya harum. Selain ini merupakan kefadholan dari Alloh, ini juga karena nabi merawat dirinya sendiri. Kalau ada yang nyeletuk, “wajarlah, dia nabi diberi kefadholan oleh Alloh” jawab saja, kalaupun itu kefadholah dari Alloh, tapi kalau tidak dirawat ya pasti akan rusak nantinya. Ini artinya, nabi-pun tetap merawat dirinya. Bagaimana dengan kita sebagai umatnya.
Islam pun mengajarkan untuk saling sayang menyayangi, memuliakan, sesama pemeluk islam. Ayatnya dalam surat Hujurat “sesungguhnya orang-orang iman itu saudara, maka saling memperbaikilah sesama saudara”. Dilanjutan ayatnya juga kita diperingatkan untuk tidak saling menghinakan qoum lain, barang kali ada suatu kebaikan yang manfaat bagi diri kita dari qoum yang kita hinakan itu. Ini juga berarti pada golongan pemeluk agama lain, kita tidak boleh menghina. Mungkin saja pemeluk agama lain itu justru memberikan kelancaran kita dalam beribadah. Masuk di logika?
Bahkan diceritakan dalam hadis, ada seorang pemuda yang menolong memberikan minum kepada anjing yang kehausan. Anjing, hewan yang hina tapi ditolong oleh pemuda tersebut, ternyata itupun pahala. Dan diajarkan oleh islam.
Ada cerita lain dalam hadis, tentang seorang wanita tua yang punya amalan andalan membersihkan masjid nabi. Disaat suatu hari wanita tua tersebut tidak datang untuk membersihkan masjid, nabi mencarinya. Artinya, meskipun amalan dia hanya merawat masjid yang notabene benda mati, ternyata dia bisa membuat terkenang di hati nabi Muhammad Saw. Islam mengajarkan itu
Bahkan untuk orang yang sudah mati sekalipun, islam mengajarkan kewajiban orang yang masih hidup adalah memuliakannya, memandikannya, mengafaninya, memberikan wangi-wangian, menguburinya.
Inilah beberapa alasan mengapa islam disebut agama yang mulia, karena ajaran-ajarannya yang mulia. Dari mulai lahir, hidup, kemudian meninggal bahkan hewan, tumbuhan, serta benda mati sekalipun dimuliakan. Lantas, mengapa fenomena-fenomen huru hara diatas bisa terjadi? Jawabanya adalah mesti ada point-point kemuliaan dari islam yang belum dipraktikkan. Belum ter-aplikasi-kan.
Sadarilah kawan, amalan kecil bisa membuat anda mulia, damai dan aman. Mulailah mengaplikasikan agama islam yang sudah benar ini.
Semoga artikel ini bisa bermanfaat, moga-moga Alloh paring manfaat dan barokah.
Barokallohu lakum.
Jazakumullohu khoiro.
Wassalamu ‘alaikum wr, wb.
Ironisnya lagi, umumnya mereka beragama islam, bahkan ada yang antar pondok pesantren (artinya, sesama agama islam) suatu daerah itu saling bakar membakar pondok. Hmmm, sangat mengenaskan, tapi terjadi di negara ini. Semoga Alloh mengampuni mereka dan kita semua, amin.
Lur,
Islam itu mudah, islam itu damai, islam itu mulia-mulianya agama, islam itu agama yang di-ridhoi oleh Alloh. Kalau Tuhannya saja sudah ridho, senang, semestinya hambanya pun senang, aman, damai saat memeluk agama ini (baca : agama islam).
Sekarang terbuka sebuah pertanyaan menggelitik, lantas mengapa negara ini (yang mayoritas pemeluk islam) bisa terjadi huru-hara seperti ini?
Apakah Tuhannya yang salah menurunkan agama? Jawabannya jelas tidak, Tuhan tidak pernah salah. Dia adalah zat yang maha sempurna.
Lalu, apakah rosulnya (utusannya) yang yang tidak menyampaikan risalah ini dengan sempurna? Jawabannya pun jelas tidak, Alloh berfirman dalam hadits Qudsi yang diturunkan saat Nabi Muhammad Saw Haji wada’ “Rodhiitu billahi robban, wa bil islaami diinan, wa bi Muhammadin Nabiyyan” Alloh telah ridho menetapkan agama islam ini sebagai agama yang sempurna. Bahkan “innad diina ‘indallohi islam” agama yang diterima disisi Alloh hanyalah islam semata. Kalau Alloh-nya saja sudah sempurna, maka agama yang diterima di sisi Alloh adalah agama yang sempurna pula (baca : Islam).
Lantas kalau begitu apakah yang salah petunjuknya, artinya apakah agama islam ini tidak dibawakan sempurna oleh para pewaris agama, tidak tersalurkan sempurna oleh para ulama’? jawabannya tentu saja tidak pula. Kita sudah tahu bagaimana beratnya perjuangan para sahabat dalam peperangan, hebatnya perjuangan ulama-ulama besar kita dahulu, bahkan untuk urusan pe-mushaf-an Quran dan Hadits pun dipikirkan oleh Ulama-ulama dahulu. Bagaimana kholifah Utsman bin Affan bersama sahabat-sahabatnya membukukan Quran dari para hafidzul Quran pada zamannya semata-mata dengan tujuan, agar umat selanjutnya (yang notabene daya ingatnya semakin lemah) masih bisa menerima ilmu dari Quran tersebut.
Kitapun sekarang bisa mersakannya. Alhamdulillah. Lalu belum cukup sampai disitu, bagaimana perjuangan Imam Bukhori, Imam Muslim, dan murid-muridnya serta perowi-perowi hadits lain berusaha membukukan Sunnah-sunnah nabi Muhammad Saw, lagi lagi dengan niat semata mata untuk menolong umat zaman selanjutnya, agar bisa menikmati, mencermati, menirukan sifat-sifat baik yang ada pada nabi Muhammad saw. Alhamdulillahirobbil Alamin, alhamdulillah jaza humullohu khoiro kepada para pejuang agama. Semoga Alloh memberikan balasan yang baik, Surga disisi-Nya, sebab perjuangannya. Amin.
Kalau begitu, kita donk yang salah. Yang tidak mau belajar agama dengan sempurna, tidak mau mempraktikkan apa yang sudah diajarkan Rosululloh Saw? Jawabannya adalah ada pada diri kita masing-masing. Saya sendiri akan menjawab, separuh iya separuh tidak.
Lhoo koq bisa? Yaa, saya yakin kita disini sudah sangat banyak mengaji masalah akhlaqul kariimah, Kitabul Adab insya Alloh sudah khatam bolak balik, sudah sampai lecek-lecek saking seringnya dipelajari. Artinya, dari sisi keinginan kita untuk mempelajari agama Alloh ini jalan kita sudah benar. Kita sudah banyak melaksanakan ajakan Alloh berupa mencari ilmu. Kita sudah banyak memenuhi ajakan Alloh Rosul untuk mencari dan mempelajari Ilmu agama islam ini. Kita sudah memenuhi panggilan Alloh Rosul “Tholabul ‘Ilmi Faridhotun ala kulli muslimin”. Tapi ini bukan berarti kita cukup mencari ilmunya yaa, ingat lhoo ! . Tetap mencari ilmu yang banyak, tetap sering mengaji, hanya saja (nah ini kesalahan kita) lebih banyak lagi kita praktikkan dalam kehidupan sehari-hari.
Lur,
Saya mencoba memperhatikan tantang ajaran agama islam ini, dengan melihat sifat-sifat ajaran yang diajarkan oleh Alloh dan Rosul. Ternyata agama islam ini lebih banyak mengajarkan ibadah yang bersifat sosial dibandingkan dengan ibadah yang bersifat meng-esa-kan Alloh (Silahkan diperhatikan).
Sekarang saya akan mencoba mengajak pembaca untuk membayangkan bersama-sama. Berikan saya contoh ibadah yang meng-esa-kan Alloh? Sebagai pengantar, ibadah yang meng-esa-kan Alloh adalah ibadah yang saat itu kita benar-benar hanya berinteraksi dengan Alloh (hablum minalloh). Mungkin yang terlintas di bayangan adalah Sholat (baik Wajib maupun Sunnah), Membaca Al-Quran, Berdoa (doa-pun lebih banyak yang doa bersifat sosial atau khalayak umum, dibanding dengan doa-doa yang meng-esa-kan Alloh), Puasa (Puasa-pun meski secara kasat mata kita meng-esa-kan Alloh, tetapi secara maknawi ini lebih ke kesetaraan sosial. Yang kaya dan yang miskin sama, sama-sama tidak makan pada siang hari dan sama-sama makan saat berbuka).
Sekarang bayangkan ibadah yang diajarkan Alloh dan Rosul yang bersifat sosial. Sebagai pengantar, ibadah yang bersifat sosial adalah ibadah perintah Alloh Rosul juga namun sifatnya lebih kearah menolong sesama manusia, menolong ke hewan, tumbuhan dan lain sebagainya (Hablum minannaas).
Sekarang kita sebutkan satu persatu, zakat infaq sodaqoh, memuliakan tetangga, puasa-pun bisa kita masukkan dalam kategori ini, membersihkan rumah, membuang sampah dari dalam mesjid, tersenyum, memuliakan orang tua, memuliakan pengurus, memberi hadiah, tolong menolong, kerjasama, sabar ketika dicemooh, menahan amarah dan masih banyak contoh lainnya.
Saya bawa pembaca ke bayangan lain, kitabus sholah (sebagai contoh gambaran ilmu yang bersifat meng-esa-kan Alloh) yang tebalnya sekitar 150 halaman, hanya berisi tentang tata cara sholat dan jenis-jeins sholat, mungkin ditambahi dengan sedikit doa-doa dan tatacara wudlu.
Sedangkan kitab Tata Krama (sebagai contoh gambaran ilmu yang bersifat sosial) yang tebalnya hanya sekitar 50 halaman, itu berisi bermacam-macam amalan kecil (Sekitar 100 lebih amalan), sederhana, tapi bisa menjadikan kita mulia disisi orang lain.
Lur,
Islam itu mulia. Dikatakan mulia karena memang ajarannya menghendaki orang yang mengamalkannya menjadi mulia disisi orang lain. Yang memberikan penilaian mulia atau tidak itu kan orang lain. Contoh, Si A berbuat baik pada Si B, maka si B akan menilai Si A adalah orang mulia. Tapi disini harus ada perlakuan dari si A yang membuat Si B menilai Si A baik. Point-nya ada disini, Lur.
Yaa, ada suatu perlakuan yang membuat Si A dinilai baik oleh Si B. begitu pula untuk sekelompok orang atau keluarga, ada suatu perbuatan baik yang dilakukan anggota keluarga tersebut, sehingga bisa dinilai baik oleh keluarga lain. Begitu pula dengan islam, ada suatu ajaran yang diajarkan islam kepada pemeluknya, yang membuat sesama pemeluk islam atau pemeluk agama lain menilai islam itu baik dan mulia. Intinya disini adalah masalah praktik, amal, aplikatif.
Kalau begitu, sekarang pembaca bisa mengambil kesimpulan, mengapa islam disebut agama yang damai, agama yang mulia, agama yang mudah.
Nah, sekarang kembali ke permasalahan awal. Mengapa islam yang sudah disebut seperti diatas, tidak cocok dengan fenomena yang terjadi diatas. Jawabannya adalah kurangnya aplikasi dari pemeluknya.
Terkadang, kita lebih terfokus melakukan amalan andalan diluar amalan wajib, dengan mengedepankan ibadah yang bersifat meng-esa-kan Alloh, namun terkadang kita sulit konstant menjalankannya itu. Kita terlalu terfokus untuk melakukan ibadah andalan yang besar, tapi terkadang kita sulit bertahan. Bukankah lebih baik kita melakukan ibadah kecil, yang tidak terlalu banyak menyita waktu, yang aplikatif ke sosial, seperti tersebut diatas, namun kita bisa merutinkan itu dibanding kita terlalu ngoyo, padahal “Laqod’ Kholaq’nal insaana fii kabad” Alloh telah menciptakan kita dalam keadaan sibuk, dengan sibuk ini terkadang kita menjadi terasa berat untuk melaksanakan ibadah andalan (sunnah) yang besar. Wong sholat wajib ae kesusu kesusu.
Saya tidak menyalahkan orang yang berusaha mengerjakan Sholat Sunnah Dhuha 12 rokaat perhari, kalau memang sanggup dan bisa rutin, saya acungkan jempol. Dan saya sangat menghargai, serta saya-pun mendoakan, semoga Alloh memberikan balasan yang mulia kepada orang tersebut. Amin. Karena saya sendiri, jujur, belum sanggup untuk mengerjakan seperti itu. Walaupun berusaha merutinkan sholat sunnah, tapi mesti ada saja suatu hari saya tidak bisa mengerjakan sholat sunnah.
Kita adakan survey sekalian artikel ini. Siapa yang rutin sholat dhuha 12 rokaat setiap hari selama seminggu? Atau tidak harus 12 rokaat, 4 rokaat setiap hari selama seminggu. Lalu, siapa yang rutin melakukan solat tasbih setiap hari selama seminggu? Atau tidak harus setiap hari, setiap minggu selama sebulan.
Bukannya, saya su’udzon atau pesimis, tapi dari kenyataan yang ada (saya melihat sekitaran saya juga) dari pertanyaan diatas, mungkin lebih banyak individu yang tidak mengacungkan jari dibandingkan dengan yang mengacungkan jari. Bagi yang mengacungkan jari, semoga Alloh berikan kekuatan supaya bisa istiqomah dalam mengerjakan amalannya. Bagi yang tidak mengacung semoga Alloh berika petunjuk, kelonggaran agar bisa melakukan ibadah-badah lain guna mengejar ketertinggalan pahala dari sodara iman yang lain (semoga artikel dibawahnya bisa memberikan petunjuk).
Nah sekarang yang saya ingin ajak adalah objek yang selalu merasa dirinya sibuk, namun khawatir pula dengan tabungan pahalanya, sudah cukup atau tidak untuk di tukarkan dengan surganya Alloh. Jangan khawatir bagi insan insan tersebut, masih banyak amalan amalan kecil yang bernilai pahala besar, bahkan dapat membuat anda mulia dipandangan orang lain.
Yaa, ajaran yang besifat aplikatif itu. Seperti yang disebutkan diatas. Ibadah-ibadah sederhana yang bisa menambah pahala anda, menjadikan anda mulia, terkenang di orang lain, bahkan agama ini pun juga membutuhkan anda. Pembaca mungkin sholat sunnah dhuha 4 rokaat setiap hari tidak sempat, bagaimana dengan membuang bungkus permen sehabis pengajian? Saya rasa tidak memakan waktu lebih dari 5 menit, bisa membuat mesjid bersih, besoknya teman anda yang punya amalan andalan sholat dhuha 4 rokaat, bisa sholat dengan khusyu dan nyaman. Bagaimana usul saya?
Lagi, pembaca mungkin sulit nahan lapar, sehingga tidak bisa puasa sunnah senin kamis. Bagaimana dengan memberi makan orang yang berbuka saat puasa senin kamis. Anda sekalian makan, sekalian menolong teman anda yang punya amalan andalan berpuasa senin kamis. Bagaimana dengan usul saya satu ini?
Pembaca mungkin sulit untuk membaca Al-Quran setiap hari, entah mungkin karena belum fasih membaca Quran tersebut, atau mungkin karena lagi lagi kata “Sibuk”. Bagaimana dengan memberikan satu mushaf Quran atau Hadits bagus kepada mubaligh tugasan-nya, besoknya mubaligh-nya semangat lagi mengajar dengan Quran baru, semangat lagi mencari ilmu dengan hadits baru. Setuju dengan saran saya?
Dan masih banyak lagi contoh-contoh aplikasi agama islam lain. Bagaimana dengan memberi semangkuk kecil lauk kepada tetangganya setiap hari. Insya Alloh anggota keluarga tidak akan kelaparan kalau hanya dikurangi semangkuk kecil lauknya. Sekalian masak untuk anggota keluarga, Andapun akan dinilai baik oleh tetangga sekitar. Meskipun tetangga sebelah anda profesinya maling sekalipun, dia akan pekewoh untuk maling rumah anda, karena setiap hari anda mengasi makanan ke dia. Kata dia dalam hati “ngapain gue maling rumah dia, orang nanti juga bakalan dikasih.” Iyaa tidak?
Bagaimana dengan rajin membersihkan rumah, tidak harus yang berprofesi sebagai ibu rumah tangga. Nyapu-nyapu, ngepel-ngepel, ngelap-ngelap. Anda sudah mempraktikkan dalil “kebersihan sebagian dari iman”. Keluarga anda menjadi sehat, menolong keluarga anda untuk bisa terus melanjutkan ibadah lain karena sehat dari bersih tersebut. Iyoo opo ora?
Ini yag dikatakan islam itu mulia, islam itu damai, islam itu bersih. Islam lebih banyak mengajarkan kita untuk memuliakan diri kita sendiri, sesama pemeluk islam, orang lain, kelompok lain diluar pemeluk islam, bahkan hewan, tumbuhan. Orang yang sudah mati pun harus dimuliakan, diajkarkan oleh islam juga. Bahkan benda mati-pun juga harus dimuliakan.
Bagaimana islam mengajarkan kita untuk merawat diri sendiri, mandi, sikat gigi, memakai wangi-wangian, memakai pakaian yang pantas, seperti dicontohkan nabi Muhammad Saw. Beliau ganteng, rambutnya gondrong rapih, beliau putih bersih, badannya harum. Selain ini merupakan kefadholan dari Alloh, ini juga karena nabi merawat dirinya sendiri. Kalau ada yang nyeletuk, “wajarlah, dia nabi diberi kefadholan oleh Alloh” jawab saja, kalaupun itu kefadholah dari Alloh, tapi kalau tidak dirawat ya pasti akan rusak nantinya. Ini artinya, nabi-pun tetap merawat dirinya. Bagaimana dengan kita sebagai umatnya.
Islam pun mengajarkan untuk saling sayang menyayangi, memuliakan, sesama pemeluk islam. Ayatnya dalam surat Hujurat “sesungguhnya orang-orang iman itu saudara, maka saling memperbaikilah sesama saudara”. Dilanjutan ayatnya juga kita diperingatkan untuk tidak saling menghinakan qoum lain, barang kali ada suatu kebaikan yang manfaat bagi diri kita dari qoum yang kita hinakan itu. Ini juga berarti pada golongan pemeluk agama lain, kita tidak boleh menghina. Mungkin saja pemeluk agama lain itu justru memberikan kelancaran kita dalam beribadah. Masuk di logika?
Bahkan diceritakan dalam hadis, ada seorang pemuda yang menolong memberikan minum kepada anjing yang kehausan. Anjing, hewan yang hina tapi ditolong oleh pemuda tersebut, ternyata itupun pahala. Dan diajarkan oleh islam.
Ada cerita lain dalam hadis, tentang seorang wanita tua yang punya amalan andalan membersihkan masjid nabi. Disaat suatu hari wanita tua tersebut tidak datang untuk membersihkan masjid, nabi mencarinya. Artinya, meskipun amalan dia hanya merawat masjid yang notabene benda mati, ternyata dia bisa membuat terkenang di hati nabi Muhammad Saw. Islam mengajarkan itu
Bahkan untuk orang yang sudah mati sekalipun, islam mengajarkan kewajiban orang yang masih hidup adalah memuliakannya, memandikannya, mengafaninya, memberikan wangi-wangian, menguburinya.
Inilah beberapa alasan mengapa islam disebut agama yang mulia, karena ajaran-ajarannya yang mulia. Dari mulai lahir, hidup, kemudian meninggal bahkan hewan, tumbuhan, serta benda mati sekalipun dimuliakan. Lantas, mengapa fenomena-fenomen huru hara diatas bisa terjadi? Jawabanya adalah mesti ada point-point kemuliaan dari islam yang belum dipraktikkan. Belum ter-aplikasi-kan.
Sadarilah kawan, amalan kecil bisa membuat anda mulia, damai dan aman. Mulailah mengaplikasikan agama islam yang sudah benar ini.
Semoga artikel ini bisa bermanfaat, moga-moga Alloh paring manfaat dan barokah.
Barokallohu lakum.
Jazakumullohu khoiro.
Wassalamu ‘alaikum wr, wb.
Komentar
Posting Komentar