Samudera Cinta Sesungguhnya
Kini malam semakin kelabu,
Bintang pun terlihat malu,
Sunyi,
Tawamu pun lenyap,
Ditelan dinginnya malam ibukota.
Hilang,
Luka ini masih segar,
Teriris, tersayat, tersobek,
Kau tabah, meskipun aku tahu kau menangis.
Aku, tetap dengan kekonyolanku, meskipun terkoyak.
Bukan aku yang terlalu lama,
Bukan juga kamu yang salah arah.
Kita dipisahkan oleh takdir.
Batas antara dua persepsi yang berbeda.
Benteng antara ambisi dan cinta.
Kaupun terluka, sangat dalam.
Namun cintamu menutup semua.
Begitupula ambisi ku, melupakan semua.
Yah, benteng takdir medewasakan cinta kita.
Untuk samudra cinta yang sesungguhnya.
Komentar
Posting Komentar