Postingan

Menampilkan postingan dari Juli, 2016

Mahira dan Sayangnya Bunda

Bunda bilang "selamat tinggal" Mahira mengatakan "selamat datang, bunda" Bunda, lihat ini. Taman bermain Mahira luas sekali bunda. Disudut sana bunda, iya disudut sana. Mahira bermain ayunan. Lihat sekitar bunda, teman Mahira banyak sekali disini. Bunda, Mahira bisa makan banyak donk disini. Bunda, kok bunda menangis? Ini lho bunda, tempat duduk bunda disamping Mahira. Mahira bisa berlari disini. Lompat-lompat. Main petak umpet. Main pesawat terbang. Mahira sehat bunda, Mahira makan banyak, Mahira tidak muntah lagi, Mahira punya banyak teman, Mahira bahagiaaa sekali, Mahira ingin bunda melihat mahira bahagia. Biar bunda ga sedih lagi. Mahira anak solihah kok bunda. Kan bunda yang mengajarkan mahira, doa kebaikan untuk kedua orang tua. Mahira ga lupa kok, doain ayah dan bunda. Bunda jangan nangis lagi yaa. *** Mahira sayang, cantik, dan lucu. Bunda tidak nangis kok. Bunda bahagia kamu sudah sehat nak. Terima kasih, telah mengajarkan bunda b...

Hazelnut Latte

Gambar
segelas kopi menemani malam ini, bersama hangat tawa canda kawan2. tapi, masih hangat senyum-mu dihatiku. ya senyum-mu yang disana 😄

Pecahan Cinta

Tak tersadar satu masa berlalu. Musim yang terus berganti, menemani langkahku. Menyusun pecahan-pecahan cinta yang berhamburan. Kulihat sekilas ukiran wajahmu. Dalam pecahan-pecahan cinta hatiku. Ya Alloh, bantu aku. Susunkan rangkaian cinta yang terbaik, dari pecahan cinta ini. Doa yang selalu aku sisipkan, disetiap solatku. Engkau hadir, dengan ceriamu. Terus dan terus terbayang senyumanmu. Dalam pecahan-pecahan cinta hatiku. Mungkinkah kau samudera cintaku? Ahh biarkanlah aku selesaikan terlebih dahulu. Menyusun pecahan-pecahan cinta hatiku.

Samudera Cinta Sesungguhnya

Kini malam semakin kelabu, Bintang pun terlihat malu, Sunyi, Tawamu pun lenyap, Ditelan dinginnya malam ibukota. Hilang, Luka ini masih segar, Teriris, tersayat, tersobek, Kau tabah, meskipun aku tahu kau menangis. Aku, tetap dengan kekonyolanku, meskipun terkoyak. Bukan aku yang terlalu lama, Bukan juga kamu yang salah arah. Kita dipisahkan oleh takdir. Batas antara dua persepsi yang berbeda. Benteng antara ambisi dan cinta. Kaupun terluka, sangat dalam. Namun cintamu menutup semua. Begitupula ambisi ku, melupakan semua. Yah, benteng takdir medewasakan cinta kita. Untuk samudra cinta yang sesungguhnya.

Jam 5 tepat

Dingin, Ya, masih terasa dingin ini ditulang, Rasanya sulit sekali, Melepasmu dari bayang-bayang mimpi semalam, Senyummu, Hati ini, Wajahmu, Rindu ini, Cintamu, Kesendirian ini, Mawar mekar dipadang asmara, Tapi mimpi, Ya, Hanya dengan mimpi aku mencintai Kau teramat suci, Dan aku, Pembual yang tak berarti. Jakarta, 19 juli 2016

Sudirman Malam Ini

Hey kau Sudirman, Kau belum mandi ya? Berdebu, bau asap, kotor. Malam hari ini kau belum pulang juga? Lihat itu, bedebah bedebah jakarta sudah terpejam matanya. Hey kau Sudirman. Apa yang kau hormati. Kutu busuk jakarta itu? Lalu lalang, sembunyi, tak peduli, bak curut dapur. Sesekali mencuri nasi kering. Sesekali mengeluarkan bau, saat tertekan. Huhh. Pulanglah kau Sudirman. Badanmu reot, retak, digerus angkuhnya politik. Bau, kusam, kotor, disiram debu sombongnya manusia. Gelap, sunyi, tersembunyi dibalik kokohnya bangunan jakarta Sesekali kau gemerlap oleh sinarnya mucikari mucikari Sesekali hujan menemani kesendirianmu. Hey, Apa yang kau tunggu? Mengapa kau masih berdiri disitu? Apa yang masih kau hormati? Ahh, Rupanya kau memandang cakrawala Harapan akan datangnya nirwana Menerangi nusantara. -inspired by : patung sudirman, film naga bonar 2-